Selasa, 31 Maret 2015

Cara mengecek Verifikasi Data Guru di P2TK DIKDAS
Untuk melihat masing-masing DATA GURU atau Data Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK)  apakah valid atau belum bisa mengeceknya di website P2TK DIKDAS. dengan cara sebagai berikut:


1. LAYANAN LEMBAR INFORMASI DATA GURU P2TK

http://223.27.144.195:

2. Login terlebih dengan cara memasukkan NO. NUPTK dan password-nya dengan tanggal lahir guru ybs, format pasword : YYYYMMDD (ThnBlnTgl)
     Contoh: jika tanggal lahir  25 September 1987 passwordnya: 19870925

Sabtu, 07 Maret 2015

MAU TAHU APA ITU MANAGEMEN KONFLIK

Apa pengertian manajemen konflik? perlukah bagi kepala sekolah
Apa pengertian manajemen konflik? perlukah bagi kepala sekolah manajemen konflik adalah situasi yang terjadi ketika ada pendapat-pendapat atau perbedaan cara pandang beberapa orang,kelompok atau organisasi. sikap saling mempertahankan sekurang-kurangnya di antara dua kelompok yang memiliki tujuan dan panjangan berbeda, dalam upaya mencapai satu sehingga berbeda dalam posisi oposisi,bukan kerjasama. perlukah itu bagi kepala sekolah
sangat perlu, karna ada beberapa aspek positif dalam konflik secara umum
Aspek positif dalam konflik:
·                     membantu setiap orang untuk saling memahami tentang perbedaan perbedaan pekerjaan dan tanggung jawab mereka.
·                     memberikan saluran baru untuk komunikasi
·                     menumbuhkan semangat baru pada staf
·                     memberikan kesempatan untuk menyalurkan emosi
·                     menghasilkan distribusi sumber tenaga yang lebih merata dalam organisasi
apabila konflik mengarah pada kondisi destruktif, maka hal ini dapat berdampak pada penurunan efektifitas dalam organisasi baik secara perorangan maupun kelompok, berupa penolakan,resistensi terhadap perubahan,apatis,acuh tak acuh bahkan mungkin muncul luapan emosi destruktif,berupa demonstrasi.

Penyebab-penyebab konflik :
·                     batasan pekerjaan yang tidak jelas
·                     hambatan komunikasi
·                     tekanan waktu
·                     standar, peraturan dan kebijakan yang tidak masuk akal
·                     pertikaian antar pribadi
·                     perbedaan stataus
·                     harapan yang tidak terwujud

Pengelolaan konflik 
konflik dapat di cegah atau di kelola dengan:
·                     DISIPLIN : mempertahankan disiplin dapat di gunakan untuk mengelola dan mencegah konflik
·                     KOMUNIKASI : suatu komunikasi yang baik akan menciptakan lingkungan yang terapetik dan kondusif. adalah dengan menerapkan komunikasi yang efektif dalam kegiatan sehari-hari.

·                     MENDENGARKAN SECARA ACAK : mendengarkan secara aktif merupakan hal penting untuk mengelola konflik,untuk memastikan bahwa penerimaan para  manajemen guru telah memiliki pemahaman yang benar,mereka dapat merumuskan kembali permasalahan para pegawai sebagai tanda bahwa mereka telah mendengarkan.
Teknik atau keahlian untuk mengelola konflik
pendekatan dalam resolusi konflik tergantung pada:
·                     konflik itu sendiri
·                     karakteristik orang-orang yang terlibat di dalamnya
·                     keahlian individu yang terlibat dalam penyelesaian konflik
·                     pentingnya isu yang menimbulkan konflik
·                     ketersediaan waktu dan tenaga
.


Minggu, 01 Maret 2015

Mengatasi Konflik di Sekolah


Konflik dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana seseorang dihadapkan dengan motif, keyakinan, nilai dan tujuan yang saling bertentangan. Konflik bisa dialami oleh siapapun dan di manapun, termasuk oleh komunitas di sekolah. Siswa, guru, atau pun kepala sekolah dalam waktu-waktu tertentu sangat mungkin dihadapkan dengan konflik.
 
Konflik yang dialami individu di sekolah dapat hadir dalam berbagai bentuk, bisa dalam bentuk individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok. Misalnya, seorang guru berhadapan seorang guru, seorang guru berhadapan dengan sekelompok guru, sekelompok guru tertentu berhadapan dengan sekelompok guru lainnya., dan sejenisnya. Konflik yang terjadi diantara mereka bisa bersifat tertutup, terbuka atau bahkan menjadi konfrontasi.
Apabila konflik yang terjadi di sekolah tidak terkelola dan bersifat destruktif, maka selain dapat mengganggu kesehatan dan kualitas kehidupan seseorang, juga dapat mengganggu terhadap pencapaian efektivitas dan efisiensi pendidikan di sekolah secara keseluruhan.
Terkait dengan upaya mengelola konflik di sekolah, Daniel Robin (2004) dalam sebuah artikelnya menawarkan tujuh sikap yang diperlukan untuk mencairkan konflik.


1. Define what the conflict is about
Definisikan secara jelas konflik apa yang sedang berkembang. Tanyakan pada setiap orang “Ada issue apa?”, lalu tanyakan pula “Apa kepedulian Anda di sini? atau “Apa yang kamu rasakan dan manfaat dari pertengkaran ini”. Secara berkala tanyakan pula “Apa yang ingin Anda capai dan bagamana kita harus mengerjakannya?”


2. It’s not you versus me; it’s you and me versus the problem
Memiliki keyakinan bahwa “Ini bukanlah pertentangan antara anda dengan saya, tetapi ini adalah saya bersama anda melawan masalah itu”. Masalah yang sebenarnya adalah masalah itu sendiri, yang harsus diselesaikan, bukan terletak pada orangnya. Adalah hal yang amat bodoh, jika Anda mencoba mengalahkan salah satu dari antara pihak yang berkonflik, karena suatu saat setelah mereka dikalahkan, meraka akan kembali melakukan pertempuran ulang (rematch) yang terus-menerus, yang mungkin dengan daya tembak yang lebih kuat. Jangan paksa orang untuk bertekuk lutut!


3. Identify your shared concerns against your one shared separation.
Lakukan identifikasi orang-orang yang memiliki kepedulian yang sama dengan Anda dan orang–orang yang justru berseberangan dengan Anda. Jika dihadapkan pada suatu konflik, buatlah semacam kesepakatan dengan kelompok yang memiliki hubungan paling kuat (dimana Anda menyetujuinya), tidak dengan kelompok yang paling lemah. Ini akan lebih mudah dan juga lebih efektif, apabila Anda hendak mengalihkan hal-hal yang disetujui maupun tidak disetujui. Pahami sudut pandang mereka dan berikan penghargaan atas perbedaaan yang ada.


4. Sort out interpretations from facts.
Memilah interpretasi berdasarkan fakta. Jangan meminta suatu pendapat dari orang yang sedang berkonflik, karena hanya akan memperoleh pendapat dan penafsiran versi mereka. Tetapi sebaiknya ungkapkan “Apa yang telah kamu lakukan atau katakan?” pertanyaan semacam ini akan lebih menggiring pada fakta, yang selanjutnya dapat dijadikan dasar bagi pemecahan konflik


5. Develop a sense of forgieness.
Kembangkan rasa untuk memaafkan. Tidak mungkin terjadi rekonsiliasi tanpa belajar memaafkan kesalahan orang lain. Banyak orang melakukan perdamaian tetapi tidak bisa mengubur kejadian yang sudah-sudah sehingga pada hari kemudian memunculkan lagi pertengkaran. Oleh karena itu, setiap orang penting untuk dibelajarkan mau memaafkan orang lain secara tulus. Yang lalu biar berlalu, hari ini kenyataan dan esok hari adalah harapan!


6. Learn to listen actively
Belajar mendengar secara aktif. Putarlah paradigma dari ungkapan “ Ketika saya bicara, orang lain mendengarkan” menjadi “Ketika saya mendengarkan, orang lain berbicara kepada saya”. Mendengarkan dengan tujuan untuk memahami, bukan untuk menjawab Mulailah dengan berusaha memahami, kemudian menjadi dipahami. Setidaknya dengan cara ini, akan membantu melepaskan ego atau uneg-uneg yang bersangkutan (katarsis)


7. Purify your heart.

Terakhir, berusaha mensucikan hati. Hati yang bersih merupakan benteng utama dari berbagai serangan dari luar  dan juga akan pembimbing kita dalam setiap tindakan. Anda tidak akan mendapatkan konflik atau kekerasan dari orang lain, jika dalam hati dan jiwa Anda bersemayam kebajikan. Rasa benci, iri dan dengki yang bercokol di hati kerapkali menjadi pemicu terjadinya konflik.